Jihad Di Setiap Medan Kehidupan

Jihad Di Setiap Medan Kehidupan

Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.

“Bersungguh-sungguhlah di jalan Allah, niscaya Allah bukakan jalan-Nya.”

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-’Ankabut: 69)

Ayat ini ditutup dengan sebuah janji yang sangat indah: Allah akan menunjukkan jalan kepada mereka yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya.

Perhatikan urutannya: jihad dahulu, hidayah kemudian; ikhtiar dahulu, jalan dibukakan kemudian; kesungguhan dahulu, pertolongan Allah kemudian.

Dengan demikian, ayat ini bukan hanya berbicara tentang jihad dalam pengertian yang sempit. Ia berbicara tentang kesungguhan manusia dalam menjalani kehidupan demi mencari rida Allah.

Jihad Bukan Sekadar Perang

Kata jihad berasal dari akar kata جَهَدَ – يَجْهَدُ, yang mengandung makna mengerahkan kemampuan, mencurahkan tenaga, bersungguh-sungguh, dan menghadapi kesulitan.

Karena itu, jangan mempersempit jihad hanya pada satu bentuk.

Ada jihad melawan hawa nafsu. Ada jihad menuntut ilmu. Ada jihad mendidik anak. Ada jihad membangun ekonomi umat. Ada jihad memperbaiki masyarakat. Ada jihad dalam politik, birokrasi, pendidikan, dakwah, dan membangun lembaga.

Dalam konteks yang dibenarkan syariat, ada pula jihad dalam medan perang.

Semua itu dapat menjadi medan perjuangan. Namun, nilainya di hadapan Allah tidak semata-mata ditentukan oleh nama bidangnya.

Yang menentukan adalah untuk siapa perjuangan itu dilakukan, dengan cara bagaimana ia dilakukan, dan untuk tujuan apa ia dilakukan.

Jihad Ekonomi

Umat tidak akan kuat apabila selalu menjadi konsumen, tetapi tidak mampu menjadi produsen.

Maka membangun ekonomi umat juga merupakan sebuah perjuangan.

Mendirikan usaha yang halal, menciptakan lapangan pekerjaan, membangun koperasi, mengembangkan wakaf produktif, mengelola pesantren secara mandiri, menghasilkan produk berkualitas, hingga membantu orang lain keluar dari kemiskinan, semuanya dapat menjadi ibadah apabila diniatkan untuk mencari rida Allah dan dilakukan dengan cara yang halal.

Jangan berpikir bahwa bekerja di pasar lebih rendah daripada berbicara di mimbar.

Bisa jadi seseorang sedang berjihad di toko, sementara orang lain berjihad di masjid.

Yang satu menghidupkan ekonomi, yang lain menghidupkan ruhani.

Keduanya bernilai apabila Allah menjadi orientasinya.

Jihad Politik

Politik juga dapat menjadi medan jihad.

Bukan politik yang hanya mengejar kursi, jabatan, pengaruh, dan kekuasaan. Tetapi politik yang dipandang sebagai amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Masuk ke dalam politik untuk memperjuangkan keadilan. Menggunakan kekuasaan untuk melindungi yang lemah. Menyusun kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Menghindarkan negara dari kerusakan. Menjaga persatuan dan mencegah kezaliman.

Itulah politik yang memiliki dimensi ibadah.

Sebab kekuasaan pada hakikatnya bukan kemuliaan, melainkan amanah.

Maka pertanyaannya bukan:

“Seberapa tinggi jabatan saya?”

Melainkan:

“Seberapa besar manfaat yang dapat saya berikan melalui jabatan saya?”

Jihad dalam Birokrasi

Ada orang yang menganggap birokrasi hanya pekerjaan administratif. Padahal, di dalam birokrasi terdapat jutaan pintu pelayanan kepada masyarakat.

Seorang pegawai yang bekerja jujur dan disiplin, tidak mempersulit urusan rakyat, tidak menerima suap, tidak menyalahgunakan kewenangan, serta memberikan pelayanan terbaik, sesungguhnya sedang menjalankan perjuangan moral yang luar biasa.

Bayangkan jika setiap orang di dalam birokrasi memiliki kesadaran:

“Saya bekerja bukan sekadar untuk mendapatkan gaji. Saya sedang menjalankan amanah Allah.”

Maka kantor berubah menjadi medan ibadah.

Meja kerja menjadi tempat pengabdian.

Tanda tangan menjadi amanah.

Pelayanan kepada masyarakat menjadi amal.

Dan jabatan menjadi jalan menuju kemuliaan, bukan jalan menuju kesombongan.

Jihad dalam Pendidikan

Pendidikan mungkin merupakan salah satu jihad paling panjang.

Seorang guru mengajar hari ini, tetapi hasilnya mungkin baru terlihat puluhan tahun kemudian.

Seorang kiai mendidik santri bertahun-tahun, tetapi ia tidak selalu tahu akan menjadi apa muridnya kelak.

Namun justru di situlah letak kemuliaannya.

Mendidik berarti menanam masa depan. Membangun manusia. Menanamkan adab. Mengajarkan ilmu. Membentuk karakter. Melatih disiplin. Membangkitkan keberanian. Membimbing generasi agar memiliki iman, ilmu, akhlak, dan keterampilan.

Karena itu, membangun sekolah, pesantren, universitas, perpustakaan, laboratorium, pusat pelatihan, bahkan menyediakan beasiswa bagi anak-anak yang tidak mampu, semuanya dapat menjadi bentuk jihad pendidikan.

Sebab yang dibangun bukan hanya gedung.

Yang sedang dibangun adalah manusia.

Jihad Melawan Diri Sendiri

Ada jihad yang medan perangnya tidak terlihat oleh manusia, yaitu jihad melawan diri sendiri.

Melawan malas.

Melawan sombong.

Melawan iri.

Melawan dendam.

Melawan cinta dunia yang berlebihan.

Melawan keinginan untuk dipuji.

Melawan godaan untuk menyalahgunakan amanah.

Melawan keinginan untuk menang sendiri.

Jihad seperti ini sering kali lebih sunyi daripada jihad di ruang publik.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada penghargaan.

Namun justru di situlah keikhlasan diuji.

Jihad dalam Dakwah dan Kehidupan Sosial

Dakwah juga membutuhkan jihad.

Bukan hanya jihad berbicara di atas mimbar, tetapi jihad menghadirkan Islam dalam kehidupan nyata.

Menjadi tetangga yang baik. Menyantuni yatim. Membantu fakir miskin. Mendamaikan orang yang berselisih. Membangun masyarakat. Menolong orang yang kesulitan. Mengajarkan Al-Qur’an. Membela kebenaran dengan hikmah. Menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Semua itu adalah bentuk kesungguhan dalam menghadirkan kebaikan.

Tetapi Ada Satu Syarat Penting

Tidak semua perjuangan otomatis menjadi jihad.

Inilah yang sering dilupakan.

Seseorang bisa bekerja keras, tetapi orientasinya hanya keuntungan pribadi.

Seseorang bisa berpolitik, tetapi tujuannya hanya kekuasaan.

Seseorang bisa berdakwah, tetapi sebenarnya sedang mencari popularitas.

Seseorang bisa membangun lembaga, tetapi yang dicari hanya nama besar.

Seseorang bisa melakukan aktivitas keagamaan, tetapi di dalam hatinya terdapat ambisi pribadi.

Karena itu, ayat tersebut menggunakan ungkapan:

جَاهَدُوا فِينَا

“Mereka bersungguh-sungguh untuk Kami.”

Ada kata فِينَا — fīnā — untuk Kami.

Inilah kompasnya.

Bukan sekadar jihad, tetapi jihad yang diarahkan kepada Allah.

Bukan sekadar sibuk, tetapi sibuk dalam kebaikan.

Bukan sekadar berjuang, tetapi berjuang dengan niat yang benar.

Bukan sekadar mencapai kemenangan, tetapi mencapai kemenangan yang diridai Allah.

Allah Menjanjikan Jalan

Bagian paling menenteramkan dari ayat ini adalah:

لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Sungguh, Kami benar-benar akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Allah tidak mengatakan bahwa mereka akan dijamin tidak mengalami kesulitan.

Tidak.

Orang yang berjihad tetap mungkin menghadapi kegagalan.

Orang yang berjuang tetap mungkin ditolak.

Orang yang membangun lembaga tetap mungkin mengalami krisis.

Orang yang berdakwah tetap mungkin dicela.

Orang yang membangun ekonomi tetap mungkin mengalami kerugian.

Orang yang berada dalam politik tetap mungkin menghadapi tekanan.

Tetapi janji Allah bukan bahwa perjalanan akan selalu mudah.

Janji Allah adalah bahwa Allah akan menunjukkan jalan.

Kadang jalan itu berupa peluang.

Kadang berupa seseorang yang dipertemukan dengan kita.

Kadang berupa ilmu yang tiba-tiba terbuka.

Kadang berupa kegagalan yang menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk.

Kadang berupa kesabaran.

Kadang berupa ide.

Kadang berupa keberanian.

Kadang berupa jalan keluar yang sebelumnya sama sekali tidak kita bayangkan.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan:

“Saya tidak menemukan jalan.”

Bisa jadi kita memang belum cukup bersungguh-sungguh.

Jalan Allah Bisa Lebih dari Satu

Menariknya, Allah menggunakan bentuk jamak:

سُبُلَنَا — subulanā — jalan-jalan Kami.

Seakan-akan Allah mengingatkan bahwa jalan menuju kebaikan tidak hanya satu.

Ada jalan ilmu.

Ada jalan pendidikan.

Ada jalan ekonomi.

Ada jalan dakwah.

Ada jalan pelayanan.

Ada jalan sosial.

Ada jalan kepemimpinan.

Ada jalan pengabdian.

Ada jalan membangun keluarga.

Ada jalan membangun masyarakat.

Tidak semua orang harus berada di jalan yang sama.

Yang penting adalah memastikan bahwa jalan yang ditempuh menuju kepada Allah.

Maka jangan iri kepada orang lain karena jalannya berbeda.

Mungkin Allah memberinya jalan dakwah.

Kita diberi jalan pendidikan.

Orang lain diberi jalan ekonomi.

Yang lain diberi jalan birokrasi.

Yang lain diberi jalan politik.

Yang lain diberi jalan sosial.

Semua bisa menjadi jalan pengabdian.

Yang penting bukan siapa yang jalannya paling ramai, tetapi siapa yang paling tulus dalam menempuh jalannya.

Dan Allah Bersama Orang-Orang yang Berbuat Ihsan

Ayat ini kemudian ditutup dengan:

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”

Ini adalah puncak perjalanan.

Jihad yang benar melahirkan ihsan.

Bekerja dengan sebaik-baiknya.

Mengabdi dengan sebaik-baiknya.

Memimpin dengan sebaik-baiknya.

Mendidik dengan sebaik-baiknya.

Berpolitik dengan sebaik-baiknya.

Berbisnis dengan sebaik-baiknya.

Mengelola birokrasi dengan sebaik-baiknya.

Bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat, tetap berbuat sebaik-baiknya karena yakin Allah melihat.

Inilah kualitas ihsan: bekerja seolah-olah manusia tidak melihat, tetapi Allah selalu melihat.

Jangan Menunggu Medan yang Sempurna

Kadang kita menunggu kesempatan besar untuk berbuat besar.

Padahal Allah mungkin sedang menyediakan medan jihad di depan mata.

Jika Anda seorang guru, ajarilah dengan sungguh-sungguh.

Jika Anda seorang pengusaha, bangunlah usaha yang halal dan bermanfaat.

Jika Anda seorang birokrat, layanilah masyarakat dengan amanah.

Jika Anda seorang politisi, jaga kejujuran dan perjuangkan kemaslahatan.

Jika Anda seorang kiai, didiklah umat dengan hikmah.

Jika Anda seorang santri, belajarlah dengan sungguh-sungguh.

Jika Anda seorang orang tua, didiklah keluarga dengan keteladanan.

Jika Anda seorang pemimpin, jadikan kekuasaan sebagai pelayanan.

Jika Anda seorang masyarakat biasa, jadilah manusia yang memberi manfaat.

Tidak perlu menunggu menjadi besar untuk melakukan kebaikan.

Lakukan yang terbaik pada posisi yang Allah berikan kepada kita.

Karena pada Akhirnya…

Kehidupan ini adalah rangkaian medan perjuangan.

Kita semua sedang berjihad di medan masing-masing.

Ada yang berjihad mencari ilmu.

Ada yang berjihad mencari nafkah.

Ada yang berjihad membangun lembaga.

Ada yang berjihad mendidik generasi.

Ada yang berjihad memperbaiki masyarakat.

Ada yang berjihad menjaga amanah.

Ada yang berjihad melawan dirinya sendiri.

Dan pada keadaan tertentu, ada pula jihad dalam medan perang yang memiliki ketentuan syariat dan hukum tersendiri.

Namun semuanya memiliki satu pertanyaan yang sama:

Untuk siapa semua ini kita lakukan?

Jika jawabannya adalah Allah, maka jangan takut dengan panjangnya perjalanan.

Jika niat kita benar, teruslah melangkah.

Jika jalan terasa tertutup, teruslah berusaha.

Jika gagal, perbaiki.

Jika jatuh, bangkit.

Jika dicela, bersabarlah.

Jika berhasil, jangan sombong.

Sebab Allah telah memberikan sebuah janji:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Maka tugas kita bukan memastikan bahwa seluruh jalan sudah terlihat.

Tugas kita adalah terus berjalan di jalan yang benar.

Karena sering kali, jalan itu baru terlihat setelah kita mulai melangkah.

Dan ketika langkah itu benar-benar kita persembahkan kepada Allah, kita akan menemukan satu kenikmatan yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan:

Allah bersama kita.

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan.”

Itulah jihad kehidupan:

bersungguh-sungguh dalam ikhtiar,
lurus dalam niat,
benar dalam cara,
sabar dalam proses,
dan tawakkal kepada Allah dalam hasil.

Jihad di medan apa pun, selama benar-benar “fīnā” — untuk Allah, akan menemukan “subulanā” — jalan-jalan Allah.

*Penulis Adalah Mustasyar PCNU Lebak dan Juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Rangkasbitung Lebak Banten

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *