Biografi Dr. KH. Asep Saefullah, S.Pd.I., M.Pd.
Ulama • Akademisi • Pengasuh Pesantren • Aktivis Keumatan • Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Lebak
Jejak Panjang Ilmu, Khidmah, dan Pengabdian
Setiap perjalanan hidup memiliki jalan yang berbeda. Ada yang dibangun dengan kekuasaan, ada yang ditempuh melalui kekayaan, dan ada pula yang dipersembahkan melalui ilmu dan pengabdian. Dr. KH. Asep Saefullah, S.Pd.I., M.Pd., memilih jalan yang terakhir.
Lahir di Lebak pada 5 Desember 1979, beliau tumbuh dalam lingkungan pendidikan agama dan tradisi pesantren. Dari madrasah ke pesantren, dari ruang kelas ke organisasi, dari mimbar pengabdian ke tengah masyarakat, perjalanan hidupnya memperlihatkan satu benang merah yang konsisten: ilmu yang dipelajari harus melahirkan amal, dan amal harus memberikan kemanfaatan.
Perjalanan tersebut kemudian mengantarkannya menjadi akademisi, pengasuh pesantren, aktivis organisasi keumatan, sekaligus sosok yang dipercaya memimpin Nahdlatul Ulama di Kabupaten Lebak sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Lebak Masa Khidmat 2024–2029.
Dari Madrasah, Menemukan Jalan Ilmu
Pendidikan Dr. KH. Asep Saefullah dimulai di MI Al-Hidayah Cibeurih dan diselesaikan pada 1992. Perjalanan pendidikannya kemudian berlanjut di MTs Al-Hidayah Bani Karim Cipanas hingga lulus pada 1995.
Jenjang berikutnya ditempuh di MA Al-Hidayah Bani Karim Cipanas dan diselesaikan pada 1999.
Dari lingkungan madrasah inilah fondasi keilmuan dan kecintaannya terhadap pendidikan mulai dibangun. Pendidikan agama tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi perlahan tumbuh menjadi jalan hidup.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Wasilatul Falah Rangkasbitung, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Pada 2004, beliau menyelesaikan pendidikan S1 dan memperoleh gelar S.Pd.I.
Dorongan untuk terus belajar membawanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Beliau menempuh S2 Teknologi Pembelajaran di Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya dan menyelesaikannya pada 2008 dengan gelar M.Pd.
Perjalanan akademiknya kemudian mencapai jenjang tertinggi. Pada 2026, beliau menyelesaikan pendidikan Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam Multikultural di Universitas Islam Malang (UNISMA) dan memperoleh gelar Dr.
Dengan demikian, perjalanan pendidikan formal beliau dapat diringkas:
MI → MTs → MA → S1 PAI → S2 Teknologi Pembelajaran → S3 PAI Multikultural.
Namun, bagi beliau, pendidikan tidak pernah sekadar perjalanan memperoleh ijazah dan gelar. Pendidikan adalah perjalanan untuk mematangkan diri agar semakin bermanfaat bagi orang lain.
Pesantren: Sekolah Kehidupan
Di balik gelar akademik yang disandangnya, terdapat perjalanan panjang pendidikan pesantren.
Dr. KH. Asep Saefullah pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren, yaitu:
- Pondok Pesantren Al-Jadid Cibeurih, Desa Margaluyu, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak;
- Pondok Pesantren Daruttauhid Cibeurih, Desa Margaluyu, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak;
- Pondok Pesantren Nurussa’adah Kalawijo, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak;
- Pondok Pesantren Darul Ihsan Pedes, Desa Sukamarga, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak;
- Pondok Pesantren Raudlatus Sholihin Cisalam, Kelurahan Cijoropasir, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak;
- Pondok Pesantren Al-Wardayani Warudoyong, Desa Margaluyu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Pesantren memberikan warna tersendiri dalam pembentukan kepribadiannya. Di pesantren, ilmu tidak hanya dipelajari melalui kitab, tetapi juga melalui keteladanan, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, kesederhanaan, kebersamaan, dan tradisi khidmah.
Karena itu, pendidikan formal dan pesantren dalam perjalanan hidupnya bukanlah dua jalan yang berlawanan. Keduanya justru saling melengkapi: pesantren membentuk watak, pendidikan akademik memperluas wawasan, dan pengabdian menjadi ruang untuk mengamalkan keduanya.
Dari Aktivis Mahasiswa Menuju Pengabdian Keumatan
Semangat organisasi mulai tumbuh sejak masa mahasiswa.
Di STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung, beliau dipercaya menjadi Presiden Mahasiswa. Dari lingkungan mahasiswa inilah pengalaman kepemimpinan, komunikasi, kaderisasi, dan pengorganisasian mulai ditempa.
Perjalanan tersebut berlanjut melalui organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada 2002–2003, beliau dipercaya sebagai Ketua I Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PC PMII Lebak.
Tidak berhenti di lingkungan kampus, beliau kemudian aktif dalam gerakan kepemudaan dan kemasjidan. Pada 2003–2005, beliau dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Komunikasi Remaja Masjid Lebak (FKRML).
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memahami kehidupan masyarakat secara langsung: bagaimana membangun komunikasi, menyatukan perbedaan, menggerakkan generasi muda, dan menjadikan organisasi sebagai sarana pengabdian.
Mengabdi di Berbagai Lembaga Keumatan
Perjalanan pengabdian Dr. KH. Asep Saefullah kemudian semakin luas.
Di bidang kepemudaan, beliau dipercaya menjadi Bendahara DPD KNPI Lebak Masa Khidmat 2008–2011.
Di lingkungan GP Ansor, beliau dipercaya sebagai Sekretaris PC GP Ansor Lebak Masa Khidmat 2009–2013.
Di bidang pesantren, beliau mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Kabupaten Lebak selama dua periode atau sekitar sepuluh tahun.
Di bidang Al-Qur’an, beliau pernah dipercaya sebagai Bendahara Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) Nahdlatul Ulama Provinsi Banten selama satu periode.
Berbagai amanah tersebut menunjukkan keluasan ruang pengabdiannya, mulai dari kepemudaan, pesantren, Al-Qur’an, pendidikan, hingga organisasi keagamaan.
Khidmah di MUI: Dari Komisi Fatwa hingga Sekretaris Umum
Salah satu perjalanan penting dalam khidmah keumatan Dr. KH. Asep Saefullah adalah pengabdiannya di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak.
Beliau dipercaya menduduki sejumlah posisi, yakni:
- Sekretaris Komisi Fatwa, Hukum dan Perundang-undangan MUI Lebak (2007–2012);
- Sekretaris I MUI Lebak (2012–2017);
- Sekretaris Umum MUI Lebak (2017–2022);
- Sekretaris Umum MUI Lebak Masa Khidmat 2022–2027.
Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan kepercayaan yang diberikan kepadanya dalam bidang keumatan, khususnya dalam menjaga peran ulama dalam kehidupan masyarakat.
Di bidang kemasjidan, beliau juga dipercaya sebagai Sekretaris PD Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Lebak selama dua periode, yakni 2013–2018 dan 2018–2023.
Dua Periode Memimpin ISNU Lebak
Sebagai seorang akademisi dan sarjana Nahdlatul Ulama, pengabdian Dr. KH. Asep Saefullah juga mendapat ruang yang kuat melalui Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).
Beliau dipercaya menjadi Ketua PC ISNU Kabupaten Lebak selama dua periode, yakni 2013-2017 dan 2018-2022.
Lima tahun pertama dilanjutkan dengan lima tahun berikutnya. Sepuluh tahun kepemimpinan di ISNU menjadi fase penting dalam memperkuat hubungan antara tradisi keilmuan, intelektualitas, organisasi, dan khidmah NU.
Pesantren La Tahzan: Mengubah Ilmu Menjadi Pengabdian
Pada 2014, Dr. KH. Asep Saefullah mulai mengabdikan diri sebagai Pengasuh Pondok Pesantren La Tahzan Citeras, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Pesantren menjadi ruang pengabdian yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya.
Di sana, ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi ditanamkan. Pendidikan tidak hanya diarahkan agar santri menjadi pintar, tetapi juga agar menjadi manusia yang memiliki akhlak, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian terhadap masyarakat.
Pesantren bagi beliau bukan sekadar lembaga pendidikan. Pesantren adalah tempat membentuk manusia yang utuh, tempat ilmu bertemu dengan akhlak, dan tempat generasi muda dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan.
Pengabdian di Pondok Pesantren La Tahzan juga mempertemukan dua dunia yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidupnya: tradisi pesantren dan dunia akademik.
Dari Dosen Menjadi Pendidik Sepanjang Hayat
Sejak 2009, Dr. KH. Asep Saefullah mengabdikan diri sebagai dosen STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung hingga sekarang.
Sebagai dosen, beliau berada di ruang akademik. Sebagai pengasuh pesantren, beliau berada di tengah kehidupan santri. Sebagai aktivis organisasi, beliau berada di tengah masyarakat.
Ketiganya membentuk perspektif kepemimpinan yang khas: pendidikan, organisasi, dan pengabdian harus saling menguatkan.
Bagi beliau, menjadi pendidik bukan sekadar profesi.
Menjadi pendidik adalah jalan pengabdian.
Menuju Puncak Amanah di PCNU Lebak
Pengalaman panjang dalam berbagai organisasi dan lembaga keumatan akhirnya mengantarkan Dr. KH. Asep Saefullah pada amanah yang lebih besar.
Pada Konferensi Cabang X Nahdlatul Ulama Kabupaten Lebak, beliau dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Lebak Masa Khidmat 2024–2029.
Amanah tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang khidmah yang telah ditempuhnya selama puluhan tahun.
Jika perjalanan organisasinya dibaca sebagai sebuah garis waktu, tampak sebuah proses yang panjang:
Aktivis mahasiswa → aktivis pemuda → penggerak remaja masjid → pengurus Ansor → pengabdi pesantren → pengurus MUI → pengurus DMI → Ketua ISNU → pengasuh pesantren → Ketua PCNU.
Tidak ada satu jabatan pun yang berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pengabdian.
Karena itu, kepemimpinan di NU bukanlah titik akhir perjalanan, melainkan amanah baru untuk memperluas khidmah.
Filosofi Khidmah
Perjalanan Dr. KH. Asep Saefullah memperlihatkan bahwa kepemimpinan dapat dibangun dari tiga hal:
1. Ilmu
Karena pemimpin harus memiliki pengetahuan dan wawasan.
2. Akhlak
Karena ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah.
3. Khidmah
Karena ilmu dan akhlak akan menemukan maknanya ketika memberikan manfaat kepada umat.
Ketiga hal tersebut dapat dirumuskan dalam sebuah prinsip:
“Berilmu untuk memahami, berakhlak untuk menuntun, dan berkhidmah untuk memberi manfaat.”
Inilah spirit yang mewarnai perjalanan panjang beliau.
Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai
Pada usia yang terus bertambah, perjalanan Dr. KH. Asep Saefullah justru memasuki fase pengabdian yang semakin luas.
Gelar doktor bukanlah mahkota untuk berhenti belajar.
Jabatan Ketua PCNU bukanlah tanda untuk berhenti berkhidmah.
Pesantren bukanlah sekadar tempat mengajar.
Organisasi bukanlah sekadar tempat memperoleh posisi.
Semuanya adalah amanah.
Karena itu, perjalanan beliau dapat dipandang bukan sebagai kisah tentang pencapaian pribadi, melainkan perjalanan seorang santri yang terus berusaha menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kemanfaatan.
Dari madrasah ia mengenal ilmu.
Dari pesantren ia belajar adab.
Dari kampus ia memperluas wawasan.
Dari organisasi ia belajar kepemimpinan.
Dari masyarakat ia belajar kehidupan.
Dan dari khidmah ia belajar bahwa kemuliaan bukan terletak pada seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi pada seberapa banyak manfaat yang dapat ia berikan.
EPILOG
Ilmu yang Mengabdi, Khidmah yang Berarti
Dr. KH. Asep Saefullah, S.Pd.I., M.Pd., adalah bagian dari generasi yang menempatkan ilmu dan pengabdian sebagai jalan hidup.
Lahir dari Lebak, ditempa oleh madrasah dan pesantren, berkembang melalui dunia akademik, berproses dalam organisasi, mengabdi di lembaga keumatan, mendidik mahasiswa, membina santri, dan kemudian menerima amanah memimpin PCNU Kabupaten Lebak.
Semua perjalanan tersebut bermuara pada satu keyakinan:
“Ilmu akan menjadi cahaya ketika diamalkan, dan hidup akan menjadi berarti ketika bermanfaat.”
Maka perjalanan hidupnya dapat dirangkum dalam satu kalimat:
“Dari pesantren menimba ilmu, melalui pendidikan memperluas wawasan, bersama organisasi belajar berkhidmah, dan untuk umat mengabdikan diri.”
Di atas seluruh perjalanan tersebut, tetap terpatri motto sederhana yang menjadi pedoman:
“Hidup Berilmu dan Beramal Saleh.”
Karena pada akhirnya, ilmu adalah bekal, amal adalah bukti, dan khidmah adalah jalan untuk meninggalkan jejak kebaikan.


