Oleh: dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK*
Islam merupakan agama yang memiliki karakteristik unik sebagai agama wahyu yang diturunkan langsung oleh Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ajaran-ajaran Islam tidak lahir dari hasil konstruksi rasional semata, melainkan berasal dari sumber ilahi yang bersifat mutlak, otoritatif, dan final. Hal ini menegaskan posisi Islam sebagai agama yang menyempurnakan risalah kenabian sebelumnya dan menjadi pedoman hidup universal bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman. Konsep finalitas wahyu ini sekaligus menegaskan bahwa tidak ada lagi agama baru yang akan diturunkan setelah Islam, dan tidak ada pula nabi yang akan diutus setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Di samping itu, Islam juga merupakan sistem peradaban dan pemikiran yang integral. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, hingga tata kelola sosial. Tradisi intelektual Islam yang berkembang sejak masa klasik telah melahirkan para pemikir besar seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rushd, yang tidak hanya berpengaruh dalam dunia Islam, tetapi juga turut mendorong perkembangan ilmu di dunia Barat.
Islam adalah agama yang memiliki fondasi kokoh, bukan hasil olah pikir manusia semata, tetapi bersumber dari wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui malaikat Jibril. Wahyu inilah yang menjadi inti ajaran Islam dan membedakannya dari sistem kepercayaan buatan manusia. Sebagai agama wahyu, Islam menegaskan diri sebagai agama yang benar dan final, menutup rangkaian risalah kenabian yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya.
Hikmah Puasa dan Kesehatan dalam Perspektif Islam
Puasa merupakan salah satu ibadah fundamental dalam Islam yang memiliki dimensi sangat luas. Ia bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana pembinaan spiritual, penguatan moral, serta pembelajaran sosial. Dalam pandangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana dianut Nahdlatul Ulama (NU), puasa dipahami secara komprehensif: menyentuh aspek lahir dan batin, individu dan masyarakat, bahkan jasmani dan rohani. Puasa tidak hanya berbicara tentang kewajiban hukum, tetapi juga tentang hikmah, kemaslahatan, dan keseimbangan hidup manusia.
Puasa sebagai Ibadah Spiritual dan Pendidikan Jiwa
Al-Qur’an menegaskan tujuan utama puasa dalam firman Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa inti puasa adalah pembentukan takwa, yaitu kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Takwa bukan hanya status religius, melainkan kualitas moral yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dalam tradisi keilmuan NU, takwa dipahami sebagai kondisi batin yang melahirkan sikap hati-hati, rendah hati, sabar, dan penuh tanggung jawab.
Puasa mendidik manusia untuk mengendalikan diri. Ketika seseorang mampu menahan sesuatu yang halal – makan dan minum – maka secara logika moral, ia akan lebih mudah menjauhi hal-hal yang haram. Di sinilah puasa berfungsi sebagai latihan spiritual (riyadhah ruhaniyah) yang menguatkan karakter dan akhlak. Puasa melatih kesabaran, kejujuran, serta keikhlasan, sebab hanya Allah yang benar-benar mengetahui apakah seseorang sungguh berpuasa atau tidak.
Dalam kerangka pemikiran NU, aspek ini sejalan dengan upaya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ibadah tidak hanya dinilai dari formalitas, tetapi dari dampaknya terhadap pembentukan kepribadian. Puasa yang benar akan memperhalus budi pekerti, mengurangi amarah, dan menumbuhkan empati.
Dimensi Sosial Puasa: Solidaritas dan Empati
Puasa juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Menahan lapar memberikan pengalaman eksistensial tentang rasa kekurangan. Seorang yang terbiasa hidup berkecukupan diajak merasakan kondisi mereka yang sehari-hari bergelut dengan keterbatasan. Dari pengalaman ini, tumbuh rasa solidaritas, kasih sayang, dan kepedulian sosial.
Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri menekankan pentingnya kesalehan sosial. Ibadah tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi harus berlanjut pada hubungan horizontal dengan sesama manusia. Puasa yang tidak melahirkan kepedulian sosial dianggap kehilangan ruhnya. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa nilai spiritual dan sosial.
Dalam konteks ini, puasa menjadi instrumen pendidikan sosial. Ia mengikis egoisme, menumbuhkan rasa syukur, dan mendorong semangat berbagi. Tradisi berbuka bersama, sedekah, zakat, dan santunan kepada fakir miskin merupakan manifestasi nyata dari nilai-nilai puasa yang hidup dalam masyarakat Muslim, termasuk dalam kultur keagamaan warga NU.
Puasa dan Kesehatan: Perspektif Jasmani dalam Islam
Islam adalah agama yang memperhatikan keseimbangan antara jasmani dan rohani. Tubuh manusia dipandang sebagai amanah yang harus dijaga. Oleh karena itu, pembahasan tentang puasa tidak dapat dilepaskan dari aspek kesehatan.
Secara fisiologis, puasa memberikan jeda bagi sistem pencernaan. Pola makan yang teratur – sahur dan berbuka – menciptakan ritme metabolisme yang berbeda dari hari biasa. Banyak kajian kesehatan modern menunjukkan bahwa puasa dapat membantu pengaturan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta memberi kesempatan bagi tubuh melakukan proses regenerasi sel.
Puasa juga dapat melatih disiplin makan. Dalam kehidupan modern, pola konsumsi seringkali berlebihan, baik dari segi jumlah maupun jenis makanan. Puasa mengajarkan moderasi, yang dalam bahasa NU disebut tawassuth (sikap tengah). Islam tidak mengajarkan penyiksaan diri, tetapi pengendalian diri. Ketika berbuka, seorang Muslim dianjurkan untuk tidak berlebihan, sebagaimana firman Allah:
۞ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini menegaskan prinsip keseimbangan yang menjadi inti ajaran Islam. Puasa menjadi momentum untuk menata ulang gaya hidup, memperbaiki pola makan, dan menjaga kesehatan.
Prinsip Kemaslahatan dalam Pandangan Nahdlatul Ulama
Dalam metodologi fikih jam’iyyah NU, hukum Islam selalu dikaitkan dengan tujuan syariat (maqashid syariah), salah satunya adalah hifz an-nafs (menjaga jiwa). Puasa memang wajib, tetapi kewajiban tersebut tidak boleh mengabaikan keselamatan manusia. Islam memberikan ruang keringanan (rukhsah) bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu, seperti orang sakit, musafir, lansia, ibu hamil, atau menyusui.
Kaidah fikih menyatakan:
“Al-masyaqqah tajlibut taisir.”
Kesulitan mendatangkan kemudahan.
Prinsip ini sangat penting dalam memahami fleksibilitas syariat. Dalam perspektif Islam, rukhsah bukan bentuk kelemahan iman, melainkan wujud kasih sayang Allah. Orang yang tidak mampu berpuasa karena alasan syar’i tetap berada dalam koridor ketaatan ketika mengganti puasa atau membayar fidyah sesuai ketentuan.
Pendekatan ini mencerminkan karakter Islam yang realistis dan manusiawi. NU menolak sikap ekstrem, baik yang terlalu memaksakan hingga membahayakan diri, maupun yang meremehkan kewajiban tanpa alasan yang sah.
Kesehatan Mental dan Psikologis dalam Puasa
Selain manfaat fisik, puasa juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Puasa melatih pengendalian emosi, menurunkan impulsivitas, dan memperkuat kesadaran diri. Menahan amarah, menjaga ucapan, serta menghindari konflik merupakan bagian integral dari ibadah puasa.
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, puasa dapat menjadi sarana refleksi dan penenangan batin. Aktivitas spiritual seperti dzikir, tilawah, dan doa berkontribusi pada ketenangan psikologis. Dalam tradisi keagamaan NU yang kaya dengan amaliah batin, puasa seringkali dipadukan dengan peningkatan ibadah sunnah, memperbanyak istighfar, dan memperkuat hubungan sosial.
Kesehatan mental dalam Islam bukan sekadar ketiadaan gangguan, tetapi kondisi jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah). Puasa membantu manusia melepaskan diri dari dominasi nafsu dan rutinitas materialistik, menuju kesadaran yang lebih jernih dan damai.
Adab dan Etika Puasa: Menjaga Makna Ibadah
Puasa yang ideal tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela. Lisan dijaga dari dusta dan ghibah, mata dijaga dari pandangan yang tidak pantas, telinga dijaga dari hal-hal yang merusak hati. Dalam literatur ulama, puasa semacam ini disebut sebagai puasa yang hakiki.
NU, dengan tradisi pesantren dan tasawufnya, menekankan pentingnya adab dalam ibadah. Puasa menjadi sarana pembentukan kehalusan akhlak. Seseorang yang berpuasa diharapkan menjadi lebih sabar, santun, dan bijaksana. Jika puasa justru melahirkan kemarahan, permusuhan, atau kesombongan, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam penghayatan ibadah tersebut.
Puasa sebagai Momentum Transformasi Diri
Puasa sesungguhnya merupakan proses transformasi. Ia bukan tujuan akhir, tetapi jalan menuju kualitas diri yang lebih baik. Setelah menjalani puasa, seorang Muslim diharapkan memiliki kesadaran baru tentang makna hidup, nilai kesederhanaan, dan pentingnya keseimbangan.
Dalam perspektif Nahdlatul Ulama, transformasi ini mencakup dimensi pribadi dan sosial. Puasa harus melahirkan manusia yang lebih bertakwa, lebih peduli, lebih sehat lahir batin, serta lebih bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai puasa tidak berhenti di bulan tertentu, tetapi menjadi karakter sepanjang hayat.
Penutup
Puasa adalah ibadah yang kaya hikmah. Ia menyentuh spiritualitas, moralitas, kesehatan, dan kehidupan sosial. Islam, sebagaimana dipahami dalam jam’iyyah Nahdlatul Ulama, mengajarkan bahwa ibadah harus membawa kemaslahatan, keseimbangan, dan rahmat. Puasa bukan sekadar kewajiban formal, tetapi sarana pembinaan manusia seutuhnya.
Dengan memahami puasa secara komprehensif, umat Islam dapat merasakan bahwa syariat tidak pernah bertentangan dengan kebutuhan manusia. Puasa menjadi bukti bahwa ajaran Islam selaras dengan fitrah, menjaga tubuh, menenangkan jiwa, dan memperkuat solidaritas sosial. Inilah keindahan Islam yang senantiasa relevan sepanjang zaman.
*Penulis Adalah Ketua LKNU Kabupaten Lebak Masa Khidmat 2024 – 2029 dan Juga Ketua Yayasan An Nahdlah PCNU Lebak


