Ketika Sel Darah Merah Bertasbih

Ketika Sel Darah Merah Bertasbih

Oleh: dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK*

Eritrosit, atau sel darah merah, merupakan salah satu unsur paling penting dalam tubuh manusia. Dalam kajian biologi modern, eritrosit dipahami sebagai komponen darah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbon dioksida kembali untuk dikeluarkan. Namun, dalam perspektif keIslaman, khususnya sebagaimana dipahami dalam manhaj Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut oleh Nahdlatul Ulama, eritrosit tidak hanya dipandang sebagai objek ilmiah, melainkan juga sebagai bagian dari tanda-tanda (ayat) kebesaran Allah yang layak direnungi.

Dalam tubuh manusia, jumlah eritrosit mencapai angka yang sangat besar. Secara ilmiah, darah manusia mengandung jutaan sel darah merah dalam setiap mikroliter, sehingga total keseluruhan sel darah merah dalam tubuh mencapai puluhan triliun. Angka yang demikian fantastis ini bukan sekadar data statistik, tetapi menjadi pintu masuk untuk tafakkur, perenungan mendalam terhadap ciptaan Allah. Bagaimana mungkin makhluk mikroskopis yang tidak memiliki kesadaran seperti manusia mampu bekerja dengan presisi luar biasa, teratur, dan berkesinambungan sepanjang hidup manusia?

Ahlussunnah wal Jamaah mengajarkan bahwa seluruh makhluk Allah berada dalam ketundukan kepada-Nya. Prinsip ini bersandar pada dalil naqli yang sangat jelas. Allah berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka.” (QS. Al-Isra’: 44)

Ayat ini menjadi fondasi penting dalam memahami hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Seluruh eksistensi di alam semesta, baik yang kasatmata maupun yang tersembunyi dari indera manusia, berada dalam keadaan tasbih. Dalam penjelasan ulama Aswaja, tasbih makhluk tidak harus dimaknai sebagai ucapan verbal sebagaimana manusia. Banyak ulama menjelaskan bahwa tasbih dapat berupa ketaatan total terhadap hukum dan ketentuan Allah (sunnatullah).

Eritrosit adalah contoh nyata dari makhluk yang tunduk sepenuhnya pada sunnatullah. Ia menjalankan fungsi yang telah Allah tetapkan tanpa pernah menyimpang. Sel darah merah mengalir melalui sistem peredaran darah, menembus pembuluh yang sangat halus, mengantarkan oksigen yang menjadi sumber kehidupan sel-sel tubuh. Tidak ada eritrosit yang “membangkang”, tidak ada yang menolak tugasnya. Kesempurnaan keteraturan ini merupakan manifestasi dari kehendak Allah yang Maha Mengatur (Al-Mudabbir).

Dalil lain yang menguatkan konsep tasbih universal terdapat dalam firman Allah:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, juga burung-burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara shalat dan tasbihnya.” (QS. An-Nur: 41)

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap makhluk memiliki “cara tasbihnya” sendiri. Dalam kerangka ini, tidak sulit untuk memahami bahwa mekanisme biologis eritrosit — yang bekerja secara presisi dan konsisten — adalah bentuk tasbih dalam makna ketaatan eksistensial. Ia menjalankan perannya sesuai desain Ilahi yang tidak pernah keliru.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama dan Ahlussunnah wal Jamaah, ilmu pengetahuan tidak dipertentangkan dengan wahyu. Sains justru dipandang sebagai sarana untuk semakin mengenal kebesaran Allah. Ketika manusia mempelajari sel darah merah melalui mikroskop, memahami bentuk eritrosit, kandungan hemoglobin, transportasi oksigen, serta daur hidup eritrosit, sesungguhnya ia sedang menyaksikan ayat-ayat kauniyah. Allah sendiri mendorong manusia untuk merenungi dirinya:

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Ayat ini mengandung dorongan kuat untuk melihat tubuh manusia sebagai ladang tafakkur. Eritrosit, meskipun kecil dan tak terlihat, adalah bagian dari sistem agung yang menopang kehidupan. Tanpa sel darah merah, distribusi oksigen tidak akan terjadi, organ-organ tidak dapat berfungsi, dan kehidupan akan terganggu. Kesadaran ini menumbuhkan rasa tawadhu’, bahwa manusia sangat bergantung pada sistem yang bahkan tidak ia sadari keberadaannya setiap saat.

Secara biologis, eritrosit memiliki usia sekitar 120 hari. Setelah itu, ia akan dihancurkan dan digantikan oleh sel baru melalui proses yang sangat teratur di sumsum tulang. Tidak terjadi kekacauan, tidak ada kesalahan fatal dalam skala besar, semuanya berjalan dalam keseimbangan yang menakjubkan. Dalam perspektif keimanan, keteraturan ini mencerminkan sifat Allah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Tidak ada ciptaan yang sia-sia, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.” (QS. Shad: 27)

Eritrosit bukanlah entitas tanpa makna. Ia adalah bagian dari sistem yang menunjukkan kesempurnaan penciptaan. Bahkan ketiadaan inti sel pada eritrosit, yang secara ilmiah memungkinkan ruang lebih besar untuk hemoglobin, menjadi bukti kecermatan desain Ilahi. Hal-hal seperti ini dalam tradisi ulama Aswaja sering dijadikan bahan tadabbur, bukan sekadar kajian teknis.

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ menegaskan pentingnya kesadaran akan kebesaran Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Di antaranya sabda beliau:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengarahkan perhatian manusia pada dimensi batin. Ketika seseorang merenungi keberadaan milyaran eritrosit dalam tubuhnya, ia diingatkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari dirinya, melainkan dari karunia Allah. Hal ini menumbuhkan rasa syukur dan kehinaan diri di hadapan-Nya.

Konsep tasbih makhluk juga memiliki implikasi etis. Jika eritrosit dan seluruh sistem tubuh berjalan dalam ketaatan kosmis, maka manusia yang diberi akal dan kehendak bebas seharusnya lebih pantas untuk taat. Sel darah merah tidak pernah lalai menjalankan tugasnya. Ia bekerja siang dan malam tanpa jeda. Ini menjadi pelajaran moral tentang amanah dan keikhlasan. Manusia sering mengeluh dalam menjalankan kewajiban, padahal tubuhnya sendiri dipenuhi makhluk-makhluk yang terus bekerja tanpa henti.

Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, perenungan terhadap ciptaan Allah adalah bagian dari penguatan iman. Ulama NU menekankan keseimbangan antara dzikir, fikir, dan amal. Ilmu pengetahuan yang membawa manusia pada pengakuan terhadap kebesaran Allah adalah bentuk fikir yang bernilai ibadah. Eritrosit, dalam hal ini, menjadi jembatan antara sains dan spiritualitas.

Lebih jauh lagi, keberadaan sel darah merah juga mengingatkan manusia akan rahmat Allah yang sering terlupakan. Setiap detik, oksigen dikirim ke otak, jantung, dan seluruh organ vital melalui kerja eritrosit. Ini adalah nikmat yang nyaris tidak pernah disadari. Padahal Allah berfirman:

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

 “Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Nikmat kehidupan bukan hanya berupa hal-hal besar yang tampak, tetapi juga sistem biologis yang berjalan sempurna dalam diri manusia. Kesadaran ini menumbuhkan syukur yang lebih mendalam dan otentik.

Akhirnya, eritrosit mengajarkan bahwa tubuh manusia adalah alam semesta kecil yang dipenuhi ayat-ayat Allah. Milyaran sel darah merah yang bekerja teratur mencerminkan tasbih dalam makna ketaatan total kepada kehendak-Nya. Dalam pandangan Ahlussunnah wal Jamaah dan tradisi Nahdlatul Ulama, memahami realitas ini bukan sekadar pengetahuan, tetapi jalan menuju ma’rifat — mengenal Allah melalui ciptaan-Nya.

Dengan merenungi eritrosit, manusia diingatkan akan tiga hal penting: kebesaran Allah, keterbatasan dirinya, dan kewajiban untuk bersyukur. Dari makhluk mikroskopis yang tak terlihat, seorang mukmin dapat belajar tentang tauhid, ketaatan, dan kerendahan hati. Inilah harmoni antara wahyu dan akal, antara ilmu dan iman, yang menjadi ciri khas ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ

*Penulis Adalah Ketua LKNU PCNU Kabupaten Lebak Banten Masa Khidmat 2024 – 2029

Bagikan:

4 Replies to “Ketika Sel Darah Merah Bertasbih

  • Ayoeng

    By Ayoeng

    Reply

    Mantapppp,
    Dengan Penekanan untuk Mengenal Diri Sendiri –>. Mengenal Allah
    !!!

    • nulebak

      By nulebak

      Reply

      Terimkasih.

  • Den Roni

    By Den Roni

    Reply

    Top super lanjutkan
    Penilitian²nya

    • nulebak

      By nulebak

      Reply

      Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *