Jelaskan Tiga Tingkatan Ikhlas, KH. Asep Saefullah Ingatkan Bahaya Riya

Jelaskan Tiga Tingkatan Ikhlas, KH. Asep Saefullah Ingatkan Bahaya Riya

Rangkasbitung – Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lebak, KH Asep Saefullah, menegaskan pentingnya ikhlas sebagai landasan utama dalam setiap amal ibadah umat Islam. Menurutnya, ikhlas merupakan faktor penentu diterima atau tidaknya amal seseorang di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam tausiyahnya, seperti dikutip dari tayangan instagram nuonlinebanten pada hari Sabtu 28 Februari 2026, KH Asep Saefullah menjelaskan bahwa ikhlas berarti memurnikan niat beribadah hanya karena Allah, tanpa disertai motivasi lain seperti pujian manusia atau kepentingan duniawi semata.

“Ikhlas adalah memurnikan amal hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada motivasi selain mencari ridha Allah. Inilah inti dari setiap ibadah,” ujar KH Asep Saefullah.

Ia mengutip pandangan ulama besar Imam Abu Hamid Al-Ghazali yang mendefinisikan ikhlas sebagai upaya memurnikan amal dari campuran perhatian terhadap makhluk.

Selain itu, KH Asep Saefullah juga menjelaskan pembagian ikhlas menjadi tiga tingkatan sebagaimana diterangkan oleh Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Tuhfatul Murid ‘ala Jauharatit Tauhid.

Pertama, ikhlas ‘ulya, yaitu tingkatan tertinggi, di mana seorang hamba beramal semata-mata karena Allah sebagai bentuk penghambaan dan menjalankan perintah-Nya, tanpa mengharapkan pahala maupun takut siksa.

“Tingkatan tertinggi adalah ketika seseorang beribadah lillahi ta’ala, hanya karena Allah, bukan karena surga atau takut neraka,” jelasnya.

Kedua, Ikhlas wustho, yaitu tingkatan menengah, di mana seseorang beramal karena berharap pahala dan ingin terhindar dari siksa neraka. Tingkatan ini masih termasuk ikhlas dan merupakan motivasi yang umum dimiliki umat Islam.

Misalnya, seseorang melaksanakan shalat karena ingin masuk surga atau berpuasa karena takut terhadap siksa neraka.

Ketiga, ikhlas dunia, yaitu tingkatan terendah, di mana seseorang beramal dengan harapan mendapatkan manfaat dunia yang diberikan oleh Allah SWT, seperti kelapangan rezeki, keselamatan, atau kemuliaan hidup.

“Seperti melaksanakan shalat dhuha dengan harapan dimudahkan rezeki, atau bersedekah agar terhindar dari musibah. Ini masih termasuk ikhlas selama tetap ditujukan kepada Allah,” katanya.

Namun demikian, KH Asep Saefullah mengingatkan umat Islam untuk mewaspadai riya, yaitu melakukan ibadah karena ingin dilihat atau dipuji manusia.

Menurutnya, riya merupakan perbuatan yang berbahaya karena dapat menghapus pahala amal ibadah.

“Selain tiga tingkatan tersebut, maka dapat masuk kepada riya. Ini yang harus dihindari, karena riya bisa menghanguskan pahala amal ibadah kita,” tegasnya.

Ia berharap warga Nahdliyin dan umat Islam secara umum dapat terus memperbaiki niat dalam beribadah serta meningkatkan kualitas keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Dengan ikhlas, amal menjadi bernilai di sisi Allah. Tanpa ikhlas, amal bisa menjadi sia-sia,” pungkasnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *