Petugas Haji; Bekerja dengan Hati, Tingkatkan Kompetensi, Jadikan Amal Profesi

Petugas Haji; Bekerja dengan Hati, Tingkatkan Kompetensi, Jadikan Amal Profesi

dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK

(Dokter Kloter JKG51 Kabupaten Lebak Haji Tahun 2023 M)

Menjadi dokter kloter dalam penyelenggaraan ibadah haji merupakan amanah besar yang tidak hanya menuntut kemampuan medis, tetapi juga ketulusan hati, kesabaran, kemampuan komunikasi, serta semangat pengabdian. Pada tahun 2023, saya dipercaya menjadi dokter Kloter JKG 51 yang mendampingi jamaah haji asal Kabupaten Lebak, Banten. Pengalaman tersebut menjadi salah satu perjalanan paling berharga dalam kehidupan saya, karena di sanalah saya belajar bahwa profesi dokter bukan hanya tentang mengobati penyakit, tetapi juga tentang melayani sesama manusia yang sedang berjuang menyempurnakan rukun Islam kelima.

Sejak awal keberangkatan, saya menyadari bahwa tugas sebagai dokter kloter berbeda dengan tugas dokter di rumah sakit atau puskesmas. Jika di tempat kerja biasa pasien datang kepada dokter, maka di tanah suci justru dokter harus aktif mendatangi jamaah, memantau kondisi mereka, mendengar keluhan, memberikan edukasi, dan selalu siap siaga selama 24 jam. Jamaah yang saya dampingi berasal dari berbagai usia dan latar belakang kesehatan. Banyak di antaranya merupakan jamaah lanjut usia dengan riwayat penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan kronis. Dalam menjalankan tugas tersebut, saya dibantu oleh dua tenaga perawat yang sangat sigap, satu ketua kloter yang memiliki kemampuan koordinasi sangat baik, serta satu pembimbing ibadah yang selalu mendampingi jamaah dalam aspek spiritual dan tata cara ibadah.

Perjalanan panjang dari Indonesia menuju Arab Saudi membutuhkan stamina dan kesiapan fisik yang baik. Setibanya di Makkah, tantangan semakin terasa. Suhu udara yang sangat panas, aktivitas ibadah yang padat, kepadatan jamaah dari seluruh dunia, perubahan pola makan, kurang tidur, serta kelelahan fisik menjadi faktor yang sering memicu gangguan kesehatan. Dalam kondisi seperti itu, saya menyadari bahwa dokter kloter harus selalu hadir sebagai penolong, penguat semangat, dan pemberi rasa aman.

Salah satu kasus yang cukup sering saya temui adalah hipoglikemia pada jamaah penderita diabetes melitus. Hipoglikemia terjadi ketika kadar gula darah turun drastis, biasanya karena terlambat makan, aktivitas berlebihan, atau obat diabetes yang diminum tanpa penyesuaian. Saya pernah menangani seorang jamaah lanjut usia yang tiba-tiba lemas, gemetar, berkeringat dingin, dan hampir pingsan setelah pulang dari Masjidil Haram. Setelah diperiksa, kadar gula darahnya sangat rendah. Saya segera memberikan minuman manis, makanan ringan, dan melakukan observasi ketat. Alhamdulillah kondisi beliau berangsur membaik.

Dari kejadian itu saya belajar bahwa hal kecil seperti sarapan tepat waktu dapat menyelamatkan seseorang. Saya kemudian terus mengingatkan jamaah bahwa ibadah harus dilakukan dengan bijak. Jangan memaksakan diri beribadah sunnah berlebihan hingga melupakan kesehatan. Allah tidak menilai ibadah dari beratnya perjuangan fisik semata, tetapi dari keikhlasan dan kemampuan hamba-Nya.

Selain hipoglikemia, saya juga menghadapi kasus hiperglikemia, yaitu kadar gula darah yang meningkat tinggi. Salah satu jamaah mengeluhkan badan lemas, haus terus-menerus, sering buang air kecil, dan sulit beraktivitas. Setelah diperiksa, gula darah beliau meningkat cukup tinggi. Saya memberikan terapi sesuai kebutuhan, mengatur pola makan, memantau asupan cairan, dan memastikan obat diminum secara teratur. Saya juga memberikan motivasi bahwa penyakit kronis bukan penghalang untuk beribadah, selama dijalani dengan disiplin dan tawakal.

Kasus seperti ini memberikan pelajaran penting bahwa banyak orang gagal menjaga kesehatan bukan karena penyakitnya terlalu berat, tetapi karena kurang disiplin dalam merawat dirinya sendiri. Kesembuhan dan kestabilan kesehatan sering kali dimulai dari kebiasaan kecil: minum obat tepat waktu, makan teratur, cukup istirahat, dan mau mengikuti arahan tenaga kesehatan.

Tantangan lain yang cukup sering saya tangani adalah PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), terutama pada jamaah usia lanjut yang memiliki riwayat merokok atau gangguan paru menahun. Udara panas, debu, serta kelelahan sering memicu sesak napas. Saya pernah menangani seorang jamaah yang tiba-tiba sesak berat setelah berjalan cukup jauh menuju area ibadah. Beliau tampak panik dan sulit berbicara. Dalam situasi seperti itu, saya harus tetap tenang. Saya membantu pasien duduk nyaman, memberikan terapi inhalasi, oksigen, serta menenangkan psikologis pasien.

Dalam kondisi darurat, kepanikan sering memperburuk keadaan. Karena itu saya belajar bahwa ketenangan seorang tenaga kesehatan dapat menjadi obat pertama bagi pasien. Saat dokter tenang, pasien akan ikut tenang. Saat dokter yakin, keluarga dan jamaah sekitar pun ikut percaya.

Pengalaman paling menegangkan adalah ketika saya menangani jamaah dengan dugaan syok kardiogenik, yaitu kondisi gawat darurat akibat jantung tidak mampu memompa darah secara efektif. Pasien mengalami nyeri dada hebat, sesak napas, tekanan darah menurun, tubuh dingin, dan tampak sangat lemah. Waktu itu situasi berlangsung cepat dan menuntut keputusan segera. Saya bersama tim melakukan pertolongan awal, pemberian oksigen, pemantauan tanda vital, pemasangan jalur infus, serta koordinasi rujukan ke rumah sakit Arab Saudi.

Selain penanganan di tingkat kloter, saya juga memiliki pengalaman penting melakukan rujukan ke beberapa RSAS (Rumah Sakit Arab Saudi) untuk jamaah yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan maupun perawatan intensif. Proses rujukan bukan hal sederhana, karena harus dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Kami harus memastikan kondisi pasien stabil untuk transportasi, menyiapkan dokumen medis, menjelaskan riwayat penyakit, obat-obatan yang telah diberikan, serta berkoordinasi dengan petugas sektor dan fasilitas kesehatan setempat.

Beberapa jamaah yang dirujuk mengalami kondisi seperti serangan jantung, pneumonia, dehidrasi berat, gangguan gula darah tidak terkontrol, serta gangguan pernapasan akut. Saat ambulans datang dan pasien dibawa menuju RSAS, saya merasakan bahwa tugas dokter kloter tidak berhenti saat pasien keluar dari hotel. Justru tanggung jawab berlanjut sampai pasien mendapatkan pelayanan terbaik di rumah sakit tujuan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah saat saya mendampingi jamaah yang dirawat di RSAS dan harus berperan sebagai translator atau penerjemah antara pasien Indonesia dengan tenaga kesehatan setempat. Banyak jamaah yang tidak memahami bahasa Arab maupun bahasa Inggris, sementara mereka sedang dalam kondisi sakit dan cemas. Dalam situasi tersebut, kehadiran saya menjadi jembatan komunikasi yang sangat penting.

Saya membantu menjelaskan keluhan pasien kepada dokter rumah sakit, menerjemahkan hasil pemeriksaan, menyampaikan rencana tindakan medis, serta menjelaskan instruksi pengobatan kepada jamaah dan keluarganya. Hal-hal sederhana seperti menanyakan lokasi nyeri, riwayat alergi obat, kapan mulai sesak, atau apakah pasien sudah makan, menjadi sangat penting ketika harus diterjemahkan dengan benar dan cepat.

Saya masih ingat ada seorang jamaah yang terlihat sangat takut saat akan dilakukan tindakan medis di RSAS. Beliau memegang tangan saya erat-erat karena tidak memahami apa yang disampaikan petugas. Saya kemudian menenangkan beliau dan menjelaskan bahwa tindakan tersebut bertujuan membantu kesembuhan. Setelah dijelaskan dengan bahasa yang beliau pahami, wajahnya menjadi lebih tenang. Dari situ saya belajar bahwa komunikasi yang baik dapat menjadi obat penenang yang luar biasa.

Menjadi translator di rumah sakit juga mengajarkan saya bahwa dokter tidak cukup hanya memiliki ilmu klinis, tetapi juga harus memiliki empati, kemampuan komunikasi, dan kesabaran. Kadang pasien lebih membutuhkan seseorang yang mampu menjelaskan keadaan mereka dengan tenang daripada sekadar obat.

Di luar penanganan medis, tugas dokter kloter juga sarat dengan pendekatan kemanusiaan. Banyak jamaah yang rindu keluarga, cemas ketika sakit, atau takut ibadahnya terganggu. Saya sering mendengarkan keluhan mereka, memberi semangat, dan meyakinkan bahwa menjaga kesehatan juga bagian dari ibadah. Tidak sedikit jamaah yang menangis karena merasa sudah tua dan tidak kuat lagi beraktivitas. Kepada mereka saya selalu mengatakan bahwa Allah melihat niat dan kesungguhan, bukan sekadar kekuatan fisik.

Saya juga belajar bahwa melayani orang tua membutuhkan kesabaran lebih, tetapi di situlah letak keberkahannya. Senyum mereka, doa mereka, dan ucapan terima kasih mereka menjadi energi luar biasa bagi saya untuk terus bekerja tanpa mengenal lelah.

Pengalaman menjadi dokter Kloter JKG 51 tahun 2023 mengajarkan saya bahwa hidup yang paling bermakna adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Profesi dokter bukan hanya pekerjaan, melainkan jalan pengabdian. Setiap langkah menuju kamar jamaah yang sakit, setiap malam tanpa tidur karena memantau pasien, setiap keputusan cepat saat kondisi darurat, setiap proses rujukan ke RSAS, hingga setiap kalimat yang saya terjemahkan untuk menenangkan pasien, semuanya menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan adalah bentuk ibadah nyata.

Saya juga termotivasi bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Jamaah lanjut usia dengan berbagai penyakit tetap berjuang datang ke tanah suci demi memenuhi panggilan Allah. Jika mereka yang tua dan sakit saja masih memiliki semangat sebesar itu, maka kita yang sehat seharusnya memiliki semangat lebih besar untuk bekerja, belajar, dan berbuat baik.

Dari tanah suci saya belajar tiga hal penting. Pertama, kesehatan adalah nikmat besar yang sering disadari ketika hilang. Kedua, ilmu yang dimiliki akan bernilai tinggi jika digunakan menolong sesama. Ketiga, keikhlasan dalam melayani akan selalu menghadirkan kekuatan yang tidak terlihat.

Menjadi dokter kloter adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan suci jamaah Kabupaten Lebak, Banten. Saya berharap pengalaman ini menjadi motivasi bagi siapa pun, khususnya tenaga kesehatan, agar selalu bekerja dengan hati, terus meningkatkan kompetensi, dan menjadikan profesi sebagai ladang amal.

Pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang jabatan atau penghargaan, tetapi tentang berapa banyak orang yang terbantu karena kehadiran kita. Dan saya merasakan itu saat menjadi dokter kloter JKG 51 tahun 2023. Sebuah pengalaman yang melelahkan secara fisik, namun sangat menguatkan jiwa dan memperkaya makna kehidupan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *