Oleh: dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK
(Ketua LKNU Kabupaten Lebak Masa Khidmat 2024 – 2029)
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat lepas dari aktivitas berbicara. Lidah menjadi sarana utama dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan informasi. Namun, di balik fungsinya yang vital, lidah juga dapat menjadi sumber masalah apabila tidak dijaga dengan baik. Banyak konflik, pertengkaran, bahkan perpecahan dalam masyarakat terjadi akibat ucapan yang tidak terkontrol atau yang sering disebut sebagai slip of tongue (terpelesetnya ucapan).
Lidah merupakan salah satu organ tubuh yang kecil, namun memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Secara biologis, lidah adalah organ otot yang dilengkapi dengan ribuan reseptor sensorik atau neuron pengecap (taste buds) yang berfungsi untuk merasakan berbagai rasa seperti manis, asam, asin, pahit. Selain itu, lidah juga berperan dalam proses berbicara, mengunyah, dan menelan makanan. Dari sisi kesehatan, lidah menjadi indikator kondisi tubuh, sedangkan dalam pandangan Islam, lidah adalah penentu baik buruknya amal seseorang.
Lidah dalam Perspektif Kesehatan
Secara medis, lidah terdiri atas jaringan otot yang fleksibel dan dilapisi oleh mukosa yang mengandung papila-papila tempat reseptor rasa berada. Papila ini memiliki neuron sensorik yang terhubung dengan sistem saraf pusat, sehingga memungkinkan manusia merasakan berbagai jenis rasa. Kepekaan lidah ini sangat penting dalam mendeteksi kualitas makanan, termasuk apakah makanan tersebut layak dikonsumsi atau tidak.
Menjaga kesehatan lidah berarti menjaga kebersihan dan fungsinya. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Membersihkan lidah secara rutin saat menyikat gigi untuk menghilangkan bakteri.
- Menghindari konsumsi makanan yang terlalu panas atau terlalu pedas yang dapat merusak permukaan lidah.
- Mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga kesehatan jaringan dan saraf lidah.
- Memperhatikan perubahan warna atau tekstur lidah sebagai tanda kemungkinan penyakit, seperti infeksi, dehidrasi, atau gangguan sistemik lainnya.
Lidah yang sehat biasanya berwarna merah muda dan tidak berlapis tebal. Jika lidah berubah menjadi putih, kuning, atau terdapat luka yang tidak sembuh, hal tersebut perlu diwaspadai.
Lidah dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, lidah tidak hanya dipandang sebagai organ fisik, tetapi juga sebagai alat utama dalam berkomunikasi yang memiliki konsekuensi moral dan spiritual. Banyak ajaran Islam yang menekankan pentingnya menjaga lisan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang dapat menjamin menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya (mulut/lidah) dan dua kakinya, maka dijamin baginya surga. Hal ini menunjukkan bahwa lidah memiliki peran penting dalam menentukan keselamatan seseorang di akhirat.
Beberapa bentuk menjaga lidah dalam Islam antara lain:
- Menghindari berkata dusta (bohong).
- Menjauhi ghibah (menggunjing) dan fitnah.
- Tidak berkata kasar atau menyakiti orang lain.
- Memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berkata baik.
Islam mengajarkan bahwa setiap ucapan akan dicatat oleh malaikat, sehingga manusia harus berhati-hati dalam berbicara. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga ucapan. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Ajaran ini menunjukkan bahwa setiap ucapan harus memiliki nilai kebaikan. Jika tidak, maka diam adalah pilihan terbaik.
Beberapa prinsip dalam menjaga lidah menurut Islam:
- Qaulan Sadida (perkataan yang benar) – tidak berdusta
- Qaulan Layyina (perkataan yang lembut) – tidak kasar
- Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik) – tidak menyakiti
- Qaulan Karima (perkataan yang mulia) – penuh penghormatan
Selain itu, Islam melarang keras perbuatan seperti ghibah (menggunjing), fitnah, dan namimah (adu domba), yang semuanya berasal dari penyalahgunaan lidah.
Agar orang lain selamat dari ucapan kita, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Berpikir sebelum berbicara
Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar, perlu, dan baik? - Mengendalikan emosi
Banyak ucapan menyakitkan muncul saat marah. - Membiasakan diam saat ragu
Diam adalah pilihan bijak jika tidak yakin dengan ucapan. - Memperbanyak dzikir
Lidah yang terbiasa berdzikir akan lebih terjaga. - Melatih empati
Bayangkan perasaan orang lain sebelum berbicara. - Menghindari lingkungan negatif
Lingkungan yang buruk dapat memengaruhi cara berbicara. - Minta maaf jika salah
Jika terlanjur menyakiti, segera perbaiki dengan meminta maaf.
Perspektif Nahdlatul Ulama (NU)
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang berlandaskan paham Ahlussunnah wal Jama’ah, menjaga lidah merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak mulia). Para ulama NU menekankan pentingnya adab dalam berbicara, terutama dalam kehidupan bermasyarakat.
Prinsip-prinsip yang diajarkan dalam NU terkait menjaga lidah antara lain:
- Tawassuth (moderat): Tidak berlebihan dalam berbicara, tidak ekstrem dalam menyampaikan pendapat.
- Tasamuh (toleransi): Menggunakan bahasa yang santun dan menghargai perbedaan.
- Tawazun (seimbang): Menyeimbangkan antara berbicara dan diam, antara hak diri dan hak orang lain.
- I’tidal (adil): Menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak dan tidak menyakiti.
Dalam tradisi pesantren yang menjadi basis NU, santri diajarkan untuk menjaga lisan sebagai bagian dari latihan spiritual. Bahkan ada ungkapan, “Keselamatan seseorang terletak pada kemampuannya menjaga lisannya.”
Keterkaitan Kesehatan dan Spiritual
Menariknya, menjaga lidah secara fisik dan menjaga ucapan memiliki keterkaitan erat. Lidah yang sehat memungkinkan seseorang berbicara dengan jelas, menyampaikan kebaikan, dan berdakwah. Sebaliknya, penggunaan lidah yang tidak baik (seperti sering berkata kasar atau berteriak) juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan, seperti ketegangan otot dan gangguan suara.
Dalam Islam, menjaga kesehatan tubuh termasuk bagian dari ibadah. Tubuh adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Dengan menjaga kesehatan lidah, seseorang dapat lebih optimal dalam beribadah, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa.
Penutup
Lidah adalah organ kecil yang memiliki fungsi besar, baik secara biologis maupun spiritual. Dari sisi kesehatan, lidah harus dijaga kebersihan dan fungsinya agar tetap optimal. Dari sisi keislaman, terutama dalam perspektif Nahdlatul Ulama, lidah harus dijaga dari ucapan yang buruk dan digunakan untuk kebaikan.
Dengan menjaga lidah, seseorang tidak hanya mendapatkan kesehatan jasmani, tetapi juga keberkahan dalam hidup. Lidah yang digunakan untuk berkata baik, berdzikir, dan menyebarkan kebaikan akan menjadi sumber pahala yang terus mengalir. Sebaliknya, lidah yang tidak dijaga dapat menjadi sumber dosa yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga lidah kita—baik dari sisi kesehatan maupun dari sisi akhlak—agar kita menjadi manusia yang selamat di dunia dan akhirat serta mendapatkan keberkahan dalam setiap kata yang kita ucapkan.


