Sel Darah Putih Tanpa Pamrih

Sel Darah Putih Tanpa Pamrih

Oleh: dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK*

Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Kesempurnaantersebut tidak hanya tampak dari segi akal dan ruhani, tetapijuga dari sistem biologis yang luar biasa rumit dan teratur.

Salah satu bukti kebesaran Allah SWT dalam tubuh manusia adalahkeberadaan sel darah putih, atau yang dalam istilah medisdisebut leukosit. Sel ini berperan sebagai sistem pertahanantubuh yang selalu siaga menjaga manusia dari seranganpenyakit.

Dalam setiap mikroliter (/uL) darah manusia, terdapatribuan hingga puluhan ribu sel darah putih, terutama ketikatubuh sedang menghadapi infeksi. Secara umum, jumlah normal leukosit berkisar antara 4.000 hingga 11.000 sel per mikroliterdarah, namun pada kondisi tertentu dapat meningkat hinggapuluhan ribu sebagai respons pertahanan. Jumlah yang sangatbanyak dan kerja yang terorganisasi ini menunjukkan betapateliti dan sempurnanya ciptaan Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, khususnya menurut ajaranNahdlatul Ulama (NU), fenomena biologis seperti ini bukansekadar proses ilmiah, melainkan juga tanda (ayat) kebesaranAllah yang mengandung hikmah dan pelajaran hidup. Tulisan iniakan membahas sel darah putih sebagai sistem pertahanan tubuhsekaligus mengambil hikmah kehidupan berdasarkan nilai-nilaiAhlussunnah wal Jamaah yang dianut Nahdlatul Ulama.

 

Sel Darah Putih sebagai Sistem Pertahanan Tubuh

Sel darah putih merupakan bagian dari sistem imunmanusia. Fungsinya adalah melawan bakteri, virus, jamur, parasit, serta benda asing lain yang masuk ke dalam tubuh. Ada beberapa jenis sel darah putih, antara lain neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Masing-masing memiliki perankhusus, namun semuanya bekerja sama dalam satu sistempertahanan yang terkoordinasi.

Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, sel darah putihsegera mengenali ancaman tersebut. Neutrofil misalnya, akanmenjadi pasukan pertama yang menyerang dan “memakan” bakteri melalui proses fagositosis. Limfosit kemudianmembentuk antibodi spesifik untuk melawan kuman tertentu. Jika infeksi berat terjadi, tubuh akan memproduksi lebih banyaksel darah putih sehingga jumlahnya dapat meningkat hinggapuluhan ribu per mikroliter darah.

Menariknya, seluruh proses ini berlangsung tanpa kitasadari. Kita tidak pernah memerintahkan sel darah putih untukbekerja. Semua berjalan secara otomatis atas ketentuan dan sunnatullah (hukum Allah di alam semesta). Hal inimenunjukkan bahwa manusia sesungguhnya sangat lemah dan bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT.

 

Tanda Kebesaran Allah dalam Tubuh Manusia

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman bahwa pada dirimanusia terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir. Keberadaan sel darah putih yang berjumlahribuan hingga puluhan ribu per mikroliter darah merupakanbukti nyata betapa Allah menciptakan manusia dengan sistemperlindungan yang canggih.

Jika setiap hari jutaan kuman berusaha masuk ke dalamtubuh, maka setiap hari pula ribuan sel darah putih bekerja tanpalelah menjaga keseimbangan. Mereka tidak pernah menuntutbalasan, tidak pernah berhenti, dan tidak pernah sombong atasjasanya. Ini semua terjadi karena desain ilahi yang sempurna.

Dalam tradisi pemikiran Nahdlatul Ulama, fenomenaseperti ini dipahami sebagai bagian dari ayat kauniyah, yaitutanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta dan dalam diri manusia. Umat Islam dianjurkan untuk mentafakkuri(merenungkan) ciptaan Allah agar semakin bertambah iman dan rasa syukur.

 

Hikmah Kehidupan dari Sel Darah Putih

1. Pentingnya Solidaritas dan Kerja Sama

Sel darah putih terdiri dari berbagai jenis dengan fungsiberbeda, tetapi semuanya bersatu demi satu tujuan: menjagatubuh tetap sehat. Tidak ada yang merasa lebih penting, tidakada yang bekerja sendiri. Semuanya saling melengkapi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, nilai ini sangat relevan. Ajaran Nahdlatul Ulama menekankan pentingnya ukhuwah(persaudaraan), baik ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, maupun ukhuwah basyariyah. Seperti sel darah putih yang bekerja sama menjaga tubuh, umat Islam dan masyarakat luasharus saling mendukung menjaga keutuhan bangsa dan agama.

 

2. Kesigapan dalam Menghadapi Ancaman

Sel darah putih selalu siaga. Ketika ada ancaman sekecilapa pun, respons langsung diberikan. Ini mengajarkan kepadamanusia untuk waspada terhadap bahaya, baik bahaya fisikmaupun moral.

Dalam konteks kehidupan beragama, kita diajarkan untukmenjaga diri dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong. Sebagaimana tubuh memiliki sistem imun, hati pun harusmemiliki “imun spiritual” berupa dzikir, ilmu, dan amal saleh.

 

3. Keikhlasan dalam Beramal

Sel darah putih bekerja tanpa pamrih. Bahkan ketikamereka mati dalam proses melawan kuman, tubuh tetapmelanjutkan regenerasi tanpa keluhan. Ini mencerminkan nilaiikhlas yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, keikhlasan para ulama dan kiai dalam berdakwah menjadi teladan utama. Mereka berjuangmenjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah, mendidik umat, dan mempertahankan NKRI tanpa mengharap pujian duniawi. Semangat ini selaras dengan pengorbanan sel darah putih yang menjaga tubuh tanpa terlihat.

 

4. Tawadhu dan Tidak Sombong

Manusia sering merasa kuat dan hebat, padahal kesehatanyang ia nikmati setiap hari bergantung pada ribuan sel kecilyang bahkan tidak terlihat oleh mata. Jika Allah menghentikanfungsi sistem imun, manusia bisa jatuh sakit hanya karenainfeksi ringan.

Kesadaran ini menumbuhkan sikap tawadhu (rendah hati). Dalam ajaran Islam ala Nahdlatul Ulama, tawadhu adalahakhlak utama seorang mukmin. Kita diajarkan untuk tidaksombong atas jabatan, kekayaan, atau ilmu, karena semua ituhanyalah titipan Allah.

 

Relevansi dalam Kehidupan Berbangsa dan Beragama

Sebagaimana sel darah putih menjaga tubuh dari ancamanluar, umat Islam memiliki tanggung jawab menjaga agama dan bangsa dari perpecahan dan radikalisme. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia menekankanmoderasi (wasathiyah), toleransi (tasamuh), dan keseimbangan(tawazun).

Sistem imun yang berlebihan justru dapat merusak tubuhsendiri, sebagaimana pada penyakit autoimun. Demikian pula dalam kehidupan sosial, sikap berlebihan dan ekstrem dapatmerusak persatuan umat. Oleh karena itu, keseimbanganmenjadi kunci, sebagaimana tubuh menjaga keseimbanganjumlah sel darah putih agar tidak terlalu sedikit dan tidakberlebihan.

 

Sel darah putih yang berjumlah ribuan hingga puluhan ribuper mikroliter darah merupakan bukti nyata kebesaran Allah SWT dalam menciptakan sistem pertahanan tubuh manusia. Keberadaannya bukan sekadar fenomena biologis, tetapi juga mengandung hikmah mendalam bagi kehidupan.

Melalui perenungan atas fungsi dan kerja sama sel darahputih, kita belajar tentang solidaritas, kesiapsiagaan, keikhlasan, tawadhu, dan pentingnya keseimbangan. Nilai-nilai ini sejalandengan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut dan diajarkan oleh Nahdlatul Ulama.

Akhirnya, dengan mentafakkuri ciptaan Allah dalam dirikita sendiri, semoga iman kita semakin kuat, rasa syukursemakin dalam, dan semangat untuk berbuat kebaikan semakinbesar.

Sebagaimana sel darah putih menjaga tubuh tanpa terlihat, semoga kita pun mampu menjadi penjaga kebaikan dalammasyarakat, dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

*Penulis Adalah Ketua LKNU Kabupaten Lebak Masa Khidmat 2024 – 2029

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *